Postingan

Hai Ria

Assalamualaikum Hai, halo em. Semoga berkah Allah tercurah atas ikatan baru yg udah lu jalani. Jangan sakit ya, sehat terus dan semoga diri lu bahagia. W nulis ini udah lama, pas baru tau lu khitbah. Walaupun taunya telat dan dari orang lain pula. Bukan mau komentar cuma sebenernya baiknya yg namanya khitbah itu ga di publish kecuali lu namainnya lamaran. Mian w ga akan ngeribetin hidup lu lagi kok.  Kalo lu baca ini berati lu bisa sampe di titik ibadah terlama yg bakalan lu jalani. Dengan rekan hidup yang lu pilih sendiri dengan hati otak dan pikiran lu. Semoga tuntunan Islam selalu berdiri kokoh jadi penegak langkah baru hidup lu. Dengan imam yg baik. Semoga apa yg lu lakuin selalu dalam keridhoan Sang Maha Pemilik Hati.  Jangan pernah liat kebelakang lagi. Kita tutup buku itu karena buat w di tahap ini keputusan final lu udah beneran bulet. Cuma bukan kapasitas w buat nerima atau engga setiap keputusan yg lu ambil. Lu cepet dewasa setelah ga bergaul sama w lagi. Capaian yg ...

Andhika Dwi Bangun Suwiryo

Pertemuan dengan anak laki laki kurus tinggi disebuah SMA saat itu merupakan sebuah takdir nyata. Tak disangka temannya adalah temanku dan begitulah sampai saat ini aku bercerita masih salah satu temannya adalah temanku, salah dua temannya adalah temanku dan membuat banyak keterkaitan. Kami bersahabat dimulai dengan kata "Lo temennya amad kan?" Banyak banget warna warni nano nano dalam cerita persabatan ini. Si cengeng masih aja jadi si cengeng sampai hari ini. Dan si anak sok juga masih sok meski perlahan mulai berubah. Kali ini si cengeng ingin bercerita bahwa si sok mulai banyak dan jauh berubah. Memang, pada dasarnya si cengeng tak pernah tau apapun tentang kehidupan pribadi si sok selain dulu disekolah dan kesehariannya yang ngeselin. Sesuatu berubah, amat sangat berubah. Ketika si cengeng akhirnya menyadari bahwa si sok bukan lagi anak laki - laki kurus tinggi yang suka godain cewek dan gak konsisten macem bocah SMA yang dia kenal dulu. Entah kapan perubahan it...

Titik Akhir

Kalau tak menulis aku bisa menangis Kalau menulis mungkin ditengah jalan nanti akan tetap menangis Tapi aku sudah tak kuat Berbagi hidup dengan pria yang seperti itu Aku banyak menuntut, untuk perubahan Untuk masa depan agar lebih baik Untuk kesehatannya juga Tapi bahkan ia tak pernah menghargai hidupnya sendiri Dan juga tak pernah hargai perjuanganku Mana bisa orang tuaku melepaskan aku pada sosok seperti itu? Mana rela sahabat sahabatku melihatku hidup dengan sosok seperti itu nantinya? Tapi bahkan ia pun tak bergeming Aku dibiarkan sakit sendirian Dengan ragu ingin berlari tapi tak sampai hati Ingin membantunya ketempat terang dan berbahagia bersama Tapi bahkan ia tak hiraukan niatku Apa yang selama ini aku lakukan? Aku jadi merasa berjuang adalah hal paling sia sia Sakit sendirian adalah hal paling konyol Biar, biar aku ditertawakan sahabat sahabatku Yang sudah sejak awal memberi aku lampu kuning namun tak ku hiraukan Coba diingat lagi, Mengapa mudah kau ja...

Kemarin

Disana kita benar benar berdiri berhadapan satu sama lain Tersenyum, berjabat tangan Menjadi orang dewasa Yang masih berfikir realistis dan menyadari akan batasan Kemudian sesuatu mulai berkecamuk Berdentang keras di dalam seperti suaranya akan menyeruak ke permukaan Tapi masih bisa tertahankan Apakah itu, masih samar aku menyebutnya Apa itu bahagia? Apa itu sedih? Dan lalu kita berdampingan Hanya beberapa kejapan mata Beberapa cekrek cekrek Setelahnya kau pergi Dan apa yang tertinggal adalah fikirku bagaimana perjumpaan kita waktu nanti Dimasa yang akan datang lagi Akankah kita berdiri berhadapan lagi? Atau pikirku lusa lalu adalah terakhir kalinya kita bisa tersenyum bersama

Sudah berakhir

Hari ini aku janji semua sudah selesai Urusan hatiku padamu yang kutulis dalam banyak kata Entah tapi aku baru benar - benar mengetahuinya Sebenar benarnya hatimu sekarang Aku tak pernah berharap apapun padamu semenjak itu Aku juga tak akan memikirkan dimana kata yang tidak mungkin akan terjadi yaitu sebuah kata kembali Kita jalan masing masing sekarang tuan Kamu benar-benar memiliki sebuah hati yang sangat kau hargai Cukup aku melihatmu sebenar benarnya hancur Mari kita berteman seperti sedia kala Rasanya bersamamu aku bisa selamanya hanya menjadi teman Hatiku mulai ringan Tak lagi berat akanmu Aku benar - benar bisa melepasmu tanpa khawatir sekarang Mari hanya berteman Dan mendoakan hidup bahagia bagi masing - masing Aku benar - benar akan terlepas dari sangkut pautan hati padamu Mari hanya berteman tanpa libatkan hati Aku sangat menghargaimu sekarang Kamu adalah sebuah pelajaran Terimakasih untuk pernah menjalani kehidupan sekolah dan berdampingan bersamaku wa...